AZ9dz65O7JdhCBmJmAy_O69F_XM

Berikut Dengan Detail Menjelaskan PRODUK Obat Kuat PASUTRI Legal, Herbal, Rekomendasi Boyke dan Co :

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Eksperimen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Eksperimen. Tampilkan semua postingan

Kebutuhan Remaja

. Jumat, 18 Desember 2009
0 komentar

Kebutuhan Remaja

1. Kebutuhan akan pengendalian diri

2. Kebutuhan akan kebebasan

3. Kebutuhan akan rasa kekeluargaan

4. Kebutuhan akan penerimaan social

5. Kebutuhan akan penyesuaian diri

6. Kebutuhan akan agama dan nilai-nilai sosial



Psikologi Duduk Cewek

. Kamis, 16 Juli 2009
3 komentar

Psikologi Duduk Cewek

Psikologi Duduk Cewek
1.) Duduk Manis
Jika si dia duduk anteng bak anak TK, dengan tangan di atas lutut atau di atas kedua paha, mengindikasikan bahwa wanita ini mempunyai sifat kekanak-kanakan. Ia adalah seorang pengkhayal sejati dan suka melamun seksi. Ia pun suka mengkhayalkan hal-hal yang romantis dan seksi. Wanita ini asli romantis. Ia sangat memuja cinta dan mudah terbuai dengan angan-angan. Apalagi jika diminta menjadi isteri seorang pemuda tampan yang saat melamar membawakannya sekotak berlian – wah, dijamin hatinya akan berbunga-bunga dan terbang melayang di awan cinta.

Pada dasarnya wanita yang mempunyai gaya duduk manis ini mempunyai sifat jujur dalam berbagai hal, termasuk jika ia merasakan bosan jika melihat ada pria yang lebih borju dari kekasihnya. Wanita ini juga bertipe terbuka, terutama untuk urusan busana yang semakin minim busana yang dikenakannya makin jelas apa yang diingininya. Si dia ini juga tergolong wanita yang kreatif, apalagi untuk urusan pria yang bakal mendapatkan limpahan cintanya. Ia juga tergolong wanita yang penuh sensasi untuk urusan ranjang, ia terkenal dapat memberikan kreasi-kreasi sensual saat bercinta untuk memberikan kepuasan maksimal pada pasangannya. Karena itu sifatnya hangat dan mudah beradaptasi dalam segala situasi. Ia juga terkenal cemburuan. Apalagi jika kemauannya diacuhkan padahal ia merasa dirinya sudah banyak berkorban.

2.) Duduk Kaki Sejajar
Wanita yang biasa duduk dengan seluruh tubuh bersandar ke kursi dengan posisi kaki sejajar dan tertata rapi menunjukkan bahwa dia adalah tipe wanita yang hangat di tempat tidur karena seluruh auranya dipenuhi dengan gairah.
Ia tidak segan melakukan apa saja untuk memuaskan pasangannya soalnya ia tipe pejuang yang tinggi untuk urusan cinta. Ia juga bukan tipe wanita yang gampang menyerah, apalagi jika ia tahu pria yang nyata-nyata telah mengambil cintanya berbalik menarik-ulur cinta dengannya. Sebuah penolakan saja takkan membuatnya malu, apalagi mundur. Apa yang sudah ada dalam genggamannya akan dikerjakan dengan tuntas, barulah ia puas.

Wanita yang terkenal agresif ini memang suka seradak-seruduk dan meninggalkan urusan lain yang menurutnya kurang urgent. Jadi jangan kaget jika ia melakukan kecerobohan dalam langkahnya. Wanita ini juga tidak gampang dirayu, apalagi terkena rayuan gombal. Kecuali misalnya, jika si perayu itu memberinya sebuah kunci villa lengkap dengan kolam renang dan taman bunga di halaman belakang sebagai kado, maka akan dipertimbangkan sekali lagi rayuan itu. Hanya saja, begitu ia mengambil keputusan, ia tidak mau ada seorang pun yang menentangnya.

3.) Duduk ‘mengundang’
Jika wanita suka duduk dengan posisi kaki terbentang lebar, serasa ‘mengundang’ orang-orang sekitarnya untuk memandang daerah samar di dalam pahanya yang mulus itu menandakan bahwa dia merupakan tipe wanita yang selalu ceria, mudah bergaul dan seorang penggoda tulen.
Seringkali penampilannya membuat dada pria seperti drum-band dengan fantasi sensual yang dapat melambungkan pikirannya ke hal-hal yang terlarang. Tapi jika ia tahu penampilannya dianggap serius, ia dapat berubah menjadi wanita yang jutek dan ketus. Kesannya seperti jinak-jinak merpati saja.

Sebenarnya wanita yang suka ‘mengundang’ birahi pria ini tidak tahan dilanda kesepian. Ia menginginkan ada seseorang pria yang selalu siap menghangatkannya setiap waktu. Emosianya pun mudah terhanyut ke hal-hal yang romantis, sebab perasaannya itu terlalu melankolis dan terkesan mendayu-dayu. Apalagi jika ia tahu Anda memberikan perhatian besar. Maka perasaan melankolisnya itu akan berubah sekejap ke arah yang lebih ‘mengundang’ lagi.

4.) Duduk di Pinggir
Cewek-cewek yang sukanya duduk mojok, di pinggiran kursi , atau di bibir (ujung) kursi dengan posisi kaki yang tertata rapi menurut pakar psikologi tergolong wanita yang bijaksana dan baik hati. Ia tak segan membantu orang yang memerlukannya.
Ia juga termasuk orang yang mudah percaya dengan janji-janji tanpa perlu embel-embel bukti. Akibatnya memang si dia ini termasuk wanita yang gampang dikibuli dan mudah termakan rayuan gombal para-para Masteng (Mas-mas Tengik). Karena cukup dengan kata cinta dan janji pernikahan saja sudah dapat membuatnya lupa daratan karena kasmaran.
Wanita ini juga termasuk orang yang peka dan mudah bereaksi cepat jika ia tahu ada pria yang memberikan perhatian lebih padanya. Ditambah lagi, wanita ini tergolong orang yang tidak tega menolak cinta, sehingga terkesan wanita gampangan dan karena itu ia sering terperangkap dalam masalah yang bakal ia sesali setelah ia kembali kedunia nyata.

5.)Duduk Menyilang
Wanita yang suka duduk dengan kaki saling tumpang tindih dengan lutut dan menjatuhkan tungkainya yang jenjang itu menandakan kalau di dia adalah seorang yang memiliki pendirian teguh, tidak mudah tergoda dan tertipu oleh rayuan-rayuan gombal pria mana pun.

Ia sangat fasih dalam melihat cinta yang gombal dan cinta mana yang dapat diandalkannya. Ia juga sangat jeli mengukur ketebalan dompet pria yang memujanya, apalagi uang pria itu hasil jerih payahnya sendiri atau boleh ngutang sama ortunya.
Maklum saja, soalnya ia termasuk tipe yang sangat concern (hati-hati) dalam menguji dan mengkalkulasi segala keuntungan yang bakal ia dapatkan sebelum membuat keputusan. Apalagi ia termasuk wanita yang tidak mau menyesal ataupun me-revisi kekurangan-kekurangan pasangannya nanti. Begitu ia yakin pasangannya dapat diandalkan, ia tidak akan ambil pusing lagi untuk jatuh ke dalam dekapannya.

Ia juga merupakan wanita yang anti diberi nasihat. Kenapa? Karena ia merasa bahwa dirinya paling benar dalam urusan apapun. Untuk itu ia tergolong orang yang egois dan sangat mementingkan dirinya sendiri. Tapi jika pasangannya dapat memberikannya kehidupan yang makmur seumur hidupnya, tidak peduli usia pasangannya mirip dengan ayahnya, akan tetap dinikahi juga. Tapi bukan berarti ia seorang materialistis sejati, ini hanya sekedar perumpamaan bahwa ia ini tipe wanita yang berpendirian dan tidak mudah goyah dengan godaan-godaan yang akan membuat dirinya tidak Pede dengan pria pilihannya. Karena ia seorang wanita yang terkenal sabar dan rajin dalam melakukan kegiatan-kegiatannya.

sumber:
http://memikatwanita.blogspot.com/


Interaksi Sosial

. Selasa, 05 Mei 2009
1 komentar

A. Interaksi Sosial

Interaksi Sosial
Dalam hubungan sehari-hari manusia tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain, ia selalu menyesuaikan diri dengan lingkugannya, sehingga kepribadian individu, kecakapannya, ciri-ciri kegiatannya baru menjadi kepribadian individu yang sebenarnya apabila keseluruhan sistem psycho-physik tersebut berhubungan dengan lingkunganya.

H. Bonner memberikan rumusan interaksi sosial yaitu bahwa suatu hubungan antara dua individu/lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial baik secara tunggal maupun secara bergabung adalah :

a. Faktor Iimitasi
b. Faktor Sugesti
c. Faktor Indentifikasi
d. Faktor Simpati

Situasi Sosial Adalah suatu kondisi tertentu dimana berlangsung hubungan atau saling berhubungan antara dua individu atau lebih. Situasi ini dibedakan menjadi dua :

a. Togetherness Situation atau situasi kebersamaan yaitu suatu situasi dimana sejumlah individu berkumpul.
b. Group Situation disebut juga situasi kelompok atau kelompok sosial.

Dalam kehidupan sosial selalu akan kita jumpai dua macam kenyataan yaitu : pertama, social things atau benda-benda sosial yang ditentukan oleh tiga faktor yaitu faktor kebutuhan, minat dan kepercayaan. Kedua, Social Fact atau kenyataan sosial itu sendiri.

Ciri-ciri dan peranan situasi kelompok sosial terhadap individu dan sebaliknya. Menurut F.H. Allport , dalam eksperimennya bahwa situasi kebersamaan itu pada dirinya sendiri sudah dapat mempengaruhi tingkah laku manusia sehingga menjadi berlainan dibandingkan dengan tingkah laku manusia itu dalam keadaan sendirian.

Sedangkan eksperimen Rosenbaum dan Blake mengatakan bahwa dalam keadaan kebersamaan akan mudah berlangsung proses imitasi dan sugesti. Dan pada eksperimen Asch bahwa akan nyata betapa peranan sugesti dalam situasi sosial pada umumnya dan didalam situasi keadaan kebesamaan pada khususnya.


Syarat Psikologi Metode Eksperimen

.
0 komentar

Stop Dreaming Start Action
Untuk melakukan pengamatan dengan metode eksperimen, ada 4 syarat utama yang harus diberlangsungkan:

1. mengidentifikasi pengaruh/effect lingkungan spesifik (specificworld /circumctan ces) sebagai perlakuan (treatment/sebab/variabel independen). Pengaruh ini harus terdefinisi secara operasional, agar terukur.

2. Behavior variable sebagai akibat (variabel dependen). Variabel perilaku ini juga harus terdefinisi secara operasional, agar terukur dari segi validity dan reliability..

Hubungan sebab-akibat (cause and effect) haruslah didasari dengan kejelasan pengetahuan (structure of knowledge/thoughts) sebagai construct atau logical-atau conceptual validity dengan mana dibangun hipotesis (yang berupa scientific hyphothesis, berkenaan dengan predicted relationship) yang akan dijadikan landasan deduktif guna pelaksanaan uji proses induktif (dengan null hypothesis) lewat pengamatan eksperimental dengan bantuan tehnologi/instrumen tertentu. Ingat, hanya dengan construct validity baru bisa dilakukan operational definiiton.

Memang, sebelum membangun structure of knowledge/thoughts, perlu dicanangkan dulu apa masalahnya. Ada setidaknya 4 sumber inspirations untuk melakukan problem identification, yaitu: theory (sebagai a group of logically organized/deductively related laws), masalah-masalah dalam every day life misal bagaimana orangtua harus menangani kenakalan anak, practical issues yang membutuhkan solusi misal bagaimana menangani unjuk rasa karyawan, dan past research yang perlu digugat/dipertanyakan terus.

Setelah jelas dan kokoh masalahnya (bahwa x berpengaruh y) , kemudian tentulah perlu didapati sebanyak mungkin informasi tentang masalah itu, spesifik tentang variabel independen dan variabel dependen, dan kemungkinan keterkaitannya sebagai sebab-akibat). Singkat kata, perlu perlu dilakukan review of literature (books, journals, information retrieval systems, pasar = psycINFO Assisted search and retrieval service, additional information sources berupa informasi terkini lewat macam-macam meetings dalam berbagai macam psychological associations). Nah, mereka yang berminat sekali pada Psikologi Eksperimen perlu mempunyai banyak waktu, rasa ingin tahu, dan kesabaran untuk ekplorasi informasi semacam itu.

3. Variebel independen dan variable dependen itu diamati pada 2 kelompok yang berbeda: kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan maksud, untuk diperoleh hasil pengamatan, apakah ada atau tidak perbedaan pengaruh/effect perlakuan terhadap kelompok eksperimen, dan apakah terjamin, bahwa hanya perlakuan itu yang murni berpengaruh.

4. Itulah sebabnya, agar menjamin adanya the only effect, perlu dilakukan pengendalian/control terhadap extraneous variables, lalu disebutlah variabel-luaran ini sebagai controlled variables. Kalau tidak sampai terkendali, the only effect tidak akan terjadi, karena di dalamnya kemasukan pengaruh variabel-luaran, sehingga yang terjadi bias-pengaruh, kesesatan/errors, sehingga akibat pada variabel dependen tidak murni lagi.


Masalah control amat penting karena menjadi ciri utama sebuah pengamatan untuk bisa disebut ilmiah/scientific, (di samping 2 ciri utama lainnya: operational definition dan replication), karena pengendalian/control betul-betul berkenaan dengan masalah internal validity.


Mudahkah melakukan pengendalian terhadap extraneous variables yang juga disebut sebagai confounding variables? Memang tidak mudah, karena selalu ada variabel-luaran yang secara constant menyelinap, sehingga sulit dikendalikan. Tetapi ada juga variabel-luaran yang berpengaruh secara tidak constant (bersifat kompensatoris) , sehingga relatif bisa dikendalikan. Maka selalu harus diingat agar bisa bijaksana berilmu, bahwa betapa pun sempurnanya eksperimen psikologi, selalu di dalamnya memuat masalah akurasi, masalah presisi, karena sedikit banyak tentulah terjadi bias-pengaruh, tentulah memuat kesesatan. Karena itu, yang perlu diusahakan adalah, seberapa kecil kesesatan itu bisa dikendalikan. Namun setidaknya independent variablenya harus bisa manipulated. Ada 2 cara dasar manipulasi: instruction manipulation, event manipulation, dan bisa ditambah measured manipulation .


Ketika extraneous variables hadir secara tidak constant, maka biasa disebut ada 3 macam errors: kesesatan tipe Subyek (karena terjadi fluktuasi subject sampling), kesesatan Kelompok/Group (karena terjadi perbedaan dinamika kelompok), dan kesesatan tipe Replikasi (karena terjadi perubahan kondisi pada setiap replikasi).


Ada pun sumber penyebab kesesatan, yang perlu dibuntu demi terjaminnya internal validity, adalah histoy, maturation, instrumentation, statistical regression, selection, dan mortality.

Jangan Lupa Baca : Stop dreaming Start Action


Psikologi Eksperimen

.
2 komentar

PSIKOLOGI EKSPERIMEN:

PERSPEKTIF DASAR

Psikologi Eksperimen adalah cabang Psikologi yang mengkaji proses sensing, perceiving, learning, and thinking about the world.

Dalam konteks positivisme, atau empiricism, pengamatan/observasi atas proses-proses itu dilakukan dengan metode eksperimen sebagai a method or logic inquiry yang diandalkan untuk merinci (description), menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan mengendalikan (control) secara semakin akurat/precise proses-proses itu sendiri sebagai realitas.

Realitas-realitas yang saling berasosisasi, bahkan dipercaya/belief memuat the notion of determinism, bahwa perilaku pastilah bersebab, atau memliki determinan. Hanya saja realitas di sini dan sekarang (here and now) tidak dimengerti dengan pendekatan-pendekatan tenacity, intuition, authority, bahkan tidak dengan rationalism, tetapi sekali lagi dengan metode eksperimen. Jadi Psikologi Eksperimen bukan metode eksperimen itu sendiri, walau metode ini adalah satu-satunya andalannya, tetapi pertama-tama tetaplah acquiring knowledge about psychological realities.


Metode eksperimen hanyalah more acceptable means karena alat/ means ini menjamin objective observation, yaitu pengamatan yang independent of opinion or bias. Perlu diingat, yang dimaksud dengan metode eksperimen di sini adalah suatu methodology (yang memuat urutan unsur-unsur logic of inquiry mulai dari unsur identify problem and form hypothesis, unsur design experiment, unsur conduct experiment, unsur test hypothesis, sampai dengan unsur write reasearch report), bukan techniques, yang sebenarnya hanyalah specific manners in which scientif method is implemented.


Dalam konteks positivisme, masih ada metode-metode lain selain metode eksperimen, yaitu metode deskriptif, yang bermaksud menyelenggarakan deskripsi atau gambaran tentang suatu situasi, kejadian, atau kumpulan kejadian secara khusus/ partikular. Termasuk ke dalam metode deskriptif adalah naturalistic observation, secondary records, dan field studies yang terdiri atas setidaknya 4 metode: participant observation, survey (survey, correlational studies, longitudinal and cross-sectional studies), ex post facto studies, dan meta analyisis.

Tentu, metode eksperimen adalah terbaik, sejauh menjadi metode yang mampu menjamin bisa diketahuinya hubungan/asosiasi sebab-akibat di antara realitas-realitas.
Tidak berarti metode eksperimen tidak memiliki kekurangannya. Kekurangannya adalah, karena cenderung dilakukan di labolatorium, maka hasilnya sangat exclusive, dalam arti hanya bisa dibenarkan (dilegitimasikan) untuk ekesperimen itu saja. Diragukan bisa digunakan hasilnya untuk populasi yang lebih besar.

Ada masalah besar dalam hal external validity. Agar terjadi external validity, oerlu diusahakan kehadiran: population validity, ecological validity, dan temporal validity. Tentu perlu diingat adanya inverse relationship antara internal validity dan external validity: bila validitas eksternal meningkat, validitas internal cenderung terkurbankan, begitu sebaliknya.

Metode sebagai alat adalah memang salah satu bagian integral keilmiahan. Tetapi yang paling penting untuk integritas kebenaran ilmu adalah sikap ilmiah ilmuwannya sendiri, untuk senantiasa menjaga diri agar tetap memiliki: curiosity, patience, objectivity, dan change.